Selamat Datang dan Kami Ucapkan Terima Kasih atas Kunjungan Anda di Blog Pendidikan (www.bang-eb.blogspot.com). Semoga Dapat Bermanfaat

Oktober 27, 2016

Manaqib/Biografi Almaghfurlah KH. Syafi'i bin KH. Abdul Majid Pringlangu Pekalongan

Kyai Syafi’i merupakan ulama’ besar dan menjadi panutan di wilayah Pekalongan. Beliau adalah putra kedua dari pasangan KH. Abdul Majid bin Katijoyo dan Ibu Ruqoyyah. Beliau lahir pada tahun 1908 M di Dukuh Kemisan yang sekarang termasuk wilayah Kradenan. Diantara saudara-saudara beliau yaitu H. Mawardi, H. Sya’ban, H. Sausari, dan H. Khulari. Kyai Syafi’i mempunyai dua orang istri yaitu Ibu Shofiyah dan Ibu Munipah.

Awalnya Kyai Syafi’i mengaji kepada ayahnya sendiri yaitu KH. Abdul Majid (pendiri Masjid Jami Pringlangu, sekarang dikenal sebagai Masjid Jami’ Asy-Syafi’i). Setelah itu beliau nyantri di Pondok Pesantren Kempek Cirebon. Beliau kemudian dibawa ke Makkah oleh saudara dari H. Nahrowi, Kyai Syafi’i sendiri sejak kecil sudah diangkat anak oleh H. Nahrowi. Tak cukup sampai disitu, Kyai Syafi’i juga melanjutkan nyantri ke Pondok Kaliwungu dan Pondok Tebuireng.
Setelah pulang ke Pekalongan Kyai Syafi’i mengajar Tafsir Al-Qur’an di musholla di samping rumahnya serta mengajar juga di Masjid Pringlangu. Ketekunan dan konsisten dalam mengajar agama membuat Kyai Syafi’i kemudian terkenal. Santrinya pun sangat banyak. Pada masa itu, tentara Jepang masih menduduki wilayah Pekalongan. Salah seorang santri Kyai Syafi’i yang bernama Anwar warga Kandang Panjang mengatakan, pada masa itu semua pemuda giat mencari ilmu agama. Gemblengan Kyai Syafi’i begitu hebat sehingga manfaatnya masih bisa dirasakan hingga hari tuanya.   

Nama Kyai Syafi’i tidak bisa dilepaskan dari perjuangan mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Pekalongan. Sampailah pada suatu kabar bahwa Bung Karno dan Bung Hatta telah mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini menimbulkan gejolak di masyarakat Pekalongan. Pemuda-pemuda Pekalongan kala itu bertekad untuk meminta Jepang secepatnya menyerah. Menurut penuturan Ken Raharja, Kyai Syafi’i ikut memelopori pengibaran bendera merah putih dalam sebuah upacara yang di pusatkan di Kajen pada akhir September 1945.
 
Kyai Syafi’i bersama Kyai Siraj dan sejumlah tokoh-tokoh lainya mendukung dikukuhkanya Mister Besar sebagai Residen Pekalongan oleh Presiden Soekarno. Untuk itulah, kemudian diadakan rapat di alun-alun Pekalongan. Tidak lama kemudian segera diumumkan kemerdekaan Indonesia dan secara resmi Jepang menyerahkan kekuasaannya pada Mister Besar pada hari Kamis 27 September 1945. Setelah itu pada hari Sabtu 29 September 1945, sekitar pukul 07.30 pagi diadakan pawai untuk menyambut kemerdekaan dengan diikuti ribuan orang dan barisan memanjang hingga mencapai 3 km.   

Tanggal 3 Oktober 1945 sehabis salat Subuh, ribuan orang dari Doro, Kedungwuni, Kajen, Wonopringgo, Pekajangan, dan Pekalongan sudah berada di halaman rumahnya. Mereka berkumpul dan meminta didoakan sebelum berangkat menuju markas kempetai. Usaha-usaha pengambilalihan kekuasaan dari tangan Jepang, tidak sepenuhnya berjalan mulus. Hal itu dikarenakan Jepang masih memegang kendali dan belum mau menyerahkan kekuasaan dan persenjataan miliknya.
Menurut Lukman Hakim warga Pringlangu Gg. 5, barisan pemuda mememuhi jalan dari depan rumah Pak Kyai Syafi’i hingga ke Bendo Buaran dan ke arah utara sampai di sekitar Medono. Setelah didoakan, mereka dengan membawa perlengkapan seadanya, kemudian mengepung markas kempetai di depan lapangan Kebon Rodjo yang sekarang Masjid Syuhada.
 
Para delegasi Pekalongan termasuk Kyai Haji Syafi’i berada di barisan depan sambil menunggu perwakilan Pekalongan berunding dengan pimpinan tentara Jepang. Almarhum Haji Jazuli warga Sampangan menceritakan Kyai Syafi’i tokoh yang tampil di barisan paling depan bersama para santrinya. Kyai Syafi’i bersama Kyai Siraj berupaya mengobarkan semangat jihad untuk mengusir penjajah Jepang dari tanah Pekalongan. Pertempuran tak seimbang itu menyebabkan 37 korban dan 12 lainnya luka-luka dari pihak pejuang Pekalongan. Namun, banyak pejuang kita yang menewaskan tentara Jepang, yang akhirnya angkat kaki dari wilayah Pekalongan. Semenjak itulah, Pekalongan pada tanggal 7 Oktober 1945 merupakan daerah di Indonesia yang terbebas dari belengu Jepang.
 
Kiprah Kyai Syafi’i kemudian berlanjut saat negara ini baru saja merdeka. Pada waktu itu pemerintahan baru berumur beberapa bulan harus menghadapi ujian dari gerombolan Tiga Daerah. Tiga Daerah ingin menguasai dan menganti elit birokrat dengan pemimpin baru mengatasnamakan pilihan rakyat. Kyai Syafi’i dan Kyai Siraj kemudian diutus oleh Residen R.M.Soeprapto untuk mengikuti pertemuan yang digagas oleh pemimpin Tiga Daerah di Pemalang. Dalam perjalanan dengan mobil menuju Pemalang kedua tokoh Pekalongan beberapa kali harus berhenti diperiksa oleh pengikut-pengikut Tiga Daerah yang bersenjatakan parang dan bambu runcing.
Ketika sampai di Pemalang, Kyai Syafi’i dan Kyai Siraj mendengarkan penjelasan salah satu tokoh Tiga Daerah, yaitu K. Mijaya. Kyai Syafi dan Kyai Siraj segera menarik kesimpulan bahwa gerombolan Tiga Daerah berhaluan komunis sehingga keduanya segera meninggalkan lokasi perundingan. Beruntung dalam waktu dekat TKR segera bertindak dan menangkap pelaku Tiga Daerah dan menyidangkanya di Pengadilan Negeri Pekalongan.
 
Setelah agresi militer Belanda kedua, perjuangan beliau berlanjut, salah satunya adalah merintis lahirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama di Kabupaten Pekalongan. Kyai Haji Syafi’i Abdul Majid juga berperan dalam bidang politik, yaitu lewat Partai Masyumi. Partai tersebut merupakan gabungan dari beberapa ormas Islam di Indonesia. Lewat Masyumi Kyai Syafi’i menjadi salah satu anggota DPRD Kabupaten Pekalongan pada pemilu pertama tahun 1955. Dalam bidang pemberdayaan ekonomi kerakyatan, kiprah Kyai Syafi’i diwujudkan lewat Koperasi Pembatikan Buaran.
 
Kiprah dari tokoh kita ini memang luar biasa, salah satunya adalah melahirkan gagasan yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Musabaqoh Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional sekitar tahun 1950-an. Hanya sayangnya, gagasannya baru teralisir tahun 1968 setelah sahabatnya K.H. Muhammad Ilyas menjadi Menteri Agama. Selain itu, Kyai Syafi’i juga sangat berperan dalam perkembangan dunia pendidikan di Pekalongan Selatan, yaitu dengan pendirian pondok pesantren maupun sejumlah sekolah, diantaranya Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MII Pringlangu), SDI Buaran, SMP Islam Buaran (Komplek YPI Buaran), dan bersama KH. Akrom Khasani kemudian merintis Pondok Pesantren Buaran.
 
Kyai Syafi’i adalah teladan bagi masyarakat Pekalongan dan keluarganya. Abdul Hakim Kurniawan, salah seorang putra Kyai Syafi’i mengatakan bahwa ayahnya selalu menekankan kepada anak-anaknya dan sangat melarang mengunakan namanya untuk mencapai suatu tujuan. “Kyai Syafi’i selalu mengajarkan anaknya supaya mandiri. Ayah tidak senang jika anaknya mengunakan nama besarnya untuk meraih sesuatu,” ungkapnya.
Diantara ajaran Kyai Syafi’i yang disampaikan kepada para santrinya adalah untuk senantiasa menjaga kelestarian Al-Qur’an serta hidup bermasyarakat dengan tetap memegang teguh Al-Qur’an sebagai kendali dalam kehidupan.
Kyai Syafi’i wafat pada tahun 1982 M di Jakarta. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman belakang Masjid Jami’ Pringlangu Pekalongan. Haul Kyai Syafi’i diperingati setiap tanggal 11 Rabiul Awwal setiap tahunnya.
Sumber:
• Ensiklopedia Tokoh Pekalongan
• Buletin Atsar (Buletin MAS Simbang Kulon) Edisi 028/2015

Related Posts by Categories